Budaya Dan Busana BALI NE !

barong.jpg budaya

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.

Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Continue reading

Budaya BALI NE !

 

images.jpeg bali

images.jpeg bali 2

SEJARAH
Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti “Kekuatan”, dan “Bali” berarti “Pengorbanan” yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali mempunyai 2 pahlawan nasional yang sangat berperan dalam mempertahankan daerahnya yaitu I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Jelantik.

DESKRIPSI LOKASI
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Suku bangsa Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Aga (penduduk asli Bali biasa tinggal di daerah trunyan), dan Bali Mojopahit (Bali Hindu / keturunan Bali Mojopahit).

UNSUR – UNSUR BUDAYA

A. BAHASA
Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga dan bahasa asing utama bagi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit.yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus.

B. PENGETAHUAN
Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan social tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalahi oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan.

C. TEKNOLOGI
Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.

D. ORGANISASI SOSIAL
a). Perkawinan
Penarikan garis keturunan dalam masyarakat Bali adalah mengarah pada patrilineal. System kasta sangat mempengaruhi proses berlangsungnya suatu perkawinan, karena seorang wanita yang kastanya lebih tinggi kawin dengan pria yang kastanya lebih rendah tidak dibenarkan karena terjadi suatu penyimpangan, yaitu akan membuat malu keluarga dan menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita.
Di beberapa daerah Bali ( tidak semua daerah ), berlaku pula adat penyerahan mas kawin ( petuku luh), tetapi sekarang ini terutama diantara keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang.
b). Kekerabatan
Adat menetap diBali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat. Ada macam 2 adat menetap yang sering berlaku diBali yaitu adat virilokal adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu: Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan.
c). Kemasyarakatan
Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada 2 pengertian yaitu : desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan, sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.

E. MATA PENCAHARIAN
Pada umumnya masyarakat bali bermata pencaharian mayoritas bercocok tanam, pada dataran yang curah hujannya yang cukup baik, pertenakan terutama sapi dan babi sebagai usaha penting dalam masyarakat pedesaan di Bali, baik perikanan darat maupun laut yang merupakan mata pecaharian sambilan, kerajinan meliputi kerajinan pembuatan benda anyaman, patung, kain, ukir-ukiran, percetakaan, pabrik kopi, pabrik rokok, dll. Usaha dalam bidang ini untuk memberikan lapangan pekerjaan pada penduduk. Karena banyak wisatawan yang mengunjungi bali maka timbullah usaha perhotelan, travel, toko kerajinan tangan.

F. RELIGI
Agama yang di anut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang pelindung dan pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah dibali disebut pura. Tempat-tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci agama Hindu adalah weda yang berasal dari India.

Orang yang meninggal dunia pada orang Hindu diadakan upacara Ngaben yang dianggap sanggat penting untuk membebaskan arwah orang yang telah meninggal dunia dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga. Ngaben itu sendiri adalah upacara pembakaran mayat. Hari raya umat agama hindu adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka pada tanggal 1 dari bulan 10 (kedasa), selain itu ada juga hari raya galungan, kuningan, saras wati, tumpek landep, tumpek uduh, dan siwa ratri.

Pedoman dalam ajaran agama Hindu yakni : (1).tattwa (filsafat agama), (2). Etika (susila), (3).Upacara (yadnya). Dibali ada 5 macam upacara (panca yadnya), yaitu (1). Manusia Yadnya yaitu upacara masa kehamilan sampai masa dewasa. (2). Pitra Yadnya yaitu upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur. (3).Dewa Yadnya yaitu upacara yang diadakan di pura / kuil keluarga.(4).Rsi yadnya yaituupacara dalam rangka pelantikan seorang pendeta. (5). Bhuta yadnya yaitu upacara untuk roh-roh halus disekitar manusia yang mengganggu manusia.

G. KESENIAN
Kebudayaan kesenian di bali di golongkan 3 golongan utama yaitu seni rupa misalnya seni lukis, seni patung, seni arsistektur, seni pertunjukan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual misalnya seni video dan film.

NILAI-NILAI BUDAYA
1. Tata krama : kebiasaan sopan santun yang di sepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia di dalam kelompoknya.
2. Nguopin : gotong royong.
3. Ngayah atau ngayang : kerja bakti untuk keperluan agama.
4. Sopan santun : adat hubungan dalam sopan pergaulan terhadap orang-orang yang berbeda sex.

ASPEK PEMBANGUNAN
Di Bali jenis mata pencahariannya adalah bertani disawah. Mata pencaharian pokok tersebut mulai bergeser pada jenis mata pencaharian non pertanian. Pergeseran ini terjadi karena bahwa pada saat sekarang dengan berkembangnya industri pariwisata di daerah Bali, maka mereka menganggap mulai berkembanglah pula terutama dalam mata pencaharian penduduknya.

Sehingga kebanyakan orang menjual lahannya untuk industri pariwisata yang dirasakan lebih besar dan lebih cepat dinikmati. Pendapatan yang diperoleh saat ini kebanyakan dari mata pencaharian non pertanian, seperti : tukang, sopir, industri, dan kerajinan rumah tangga. Industri kerajinan rumah tangga seperti memimpin usaha selip tepung, selip kelapa, penyosohan beras, usaha bordir atau jahit menjahit.

Desainer-Desainer BALI NE !

 Tjok Abi

tjok_abi

images.jpeg abi

Berikut wawancara Bali Post dengan putra Bali yang memang memilih hidup sebagai desainer ini.

BAGAIMANA Anda melihat perkembangan mode di Bali?
Bali tidak bisa disamakan dengan di Jakarta, Bandung, atau Surabaya yang perkembangan modenya cukup pesat. Saya melihat di Bali belum begitu banyak yang suka mengikuti trend. Sebelum melangkah, mereka masih menoleh ke kiri dan ke kanan dulu. Mereka masih bertanya-tanya, ada nggak orang lain yang memakai pakaian yang begitu. Mereka takut terlihat lain dan aneh. Padahal, ikut fashion bukan berarti harus tampil aneh. Ada desain khusus untuk perempuan Bali, kebaya modern misalnya.

Apa yang membuat perempuan Bali takut mengikuti trend?
Mungkin kultur. Tetapi saya juga merasa agak aneh, kalau di lomba fashion mereka mau menggunakan baju yang ditentukan panitia. Walaupun aneh dan tidak cocok, setelah selesai lomba mereka kembali seperti apa adanya.

Berarti karier sebagai desainer bukan hal yang menjanjikan di Bali?
Tidak juga. Saya sedang berusaha untuk memperkenalkan desain-desain kuno perempuan Bali berdandan. Saya tahu masih banyak wanita Bali yang sadar dan ingin tampil beda. Memang di Bali trend tidak jadi suatu hal yang ekstrem seperti kota besar lain di Indonesia. Namun, kebaya berpeluang lebih baik di sini. Pengalaman saya mendandani finalis Putri Indonesia wilayah Bali membuat saya yakin. Mereka bisa tampil sangat modern, tetapi tetap dengan karakter khas Bali. Mengenakan songket tetapi tetap terlihat modern. Jadi kebaya adalah pilihan yang paling tepat untuk perempuan Bali.

Apalagi yang bisa Anda kembangkan?
Sanggul. Luar biasa kalau kita mau melihat sanggul-sanggul kuno. Makanya, saat memulai karier di Bali, banyak hal yang menjadi pertimbangkan saya. Walaupun hidup lama di budaya kosmopolit, saya sadar saya ini orang Bali dari puri, sehingga saya harus mulai menjajal diri saya sendiri. Sanggupkah saya sebagai orang muda Bali yang tahu persis nilai ritual budaya Bali bisa mengembangkan fashion yang berciri khas Bali. Misalnya mengembangkan kain endek, agar lebih mudah dirawat atau justru jadi pakaian pilihan di acara-acara formal seperti batik. Memang masih impian, karena mengembangkan endek tidak mungkin saya kerjakan sendiri. Harus kerja sama dengan perajin atau Departemen Perindustrian agar endek bisa dibuat lebih banyak dan perawatannya tidak rumit. Endek itu kain yang luar biasa, motif-motif kunonya sangat cantik.

Sebetulnya, sejarah busana perempuan Bali itu dimulai dari mana?
Dari berbagai literatur yang saya baca dan juga berbagai informasi yang saya dapat dari para penglingsir puri dan foto-foto dari leluhur-leluhur saya di puri, dulu wanita Bali tidak mengenal kebaya. Mereka hanya mengenakan semacam selendang lebar yang dililitkan dari bawah payudara ke arah pinggang. Baru kemudian kebaya dikenal pemakaiannya berawal dari para wanita di lingkungan puri dan akhirnya memasyarakat ke publik luas.

Anda desainer yang paling hati-hati bicara tentang evolusi kebaya. Unsur sakral apa yang Anda tangkap pada kebaya Bali?
Sebetulnya kita tak bisa mengatakan unsur sakral pada kebaya. Tapi menurut saya, lebih kepada unsur budaya dan adat istiadat yang perlu dijaga kelestariannya.

Apa yang harus diperbaiki agar kesadaran menggunakan kebaya muncul dari seluruh perempuan Bali?
Sebetulnya bukan memperbaiki kesadaran memakai kebaya, tapi memperbaiki mereka, bagaimana memakai kebaya yang semestinya. Dilihat dari kerapian, keserasian, untuk kesempatan apa, bagaimana dan kapan kebaya-kebaya itu dapat dipakai oleh para wanita Bali.

Dalam show “Bali Fashion Week 2003”, Anda mengangkat kain poleng yang dikenal sangat sakral menjadi busana yang sangat modern. Bagaimana ceritanya?
Nama show saya adalah “Taksu Poleng The Magic of Day and Night”. Nilai sakral yang saya tangkap dari kain poleng adalah dalam motif poleng asli yang dibuat dari tenunan selain hitam dan putih ada yang berwarna abu-abu. Jadi, dalam hidup tidak selalu hanya ada pagi dan malam, tapi ada juga senja peralihan dari pagi menuju malam. Ini sudah filsafat yang sangat tinggi dalam hidup. Bahwa kehidupan itu luar biasa, sangat tipis beda kejahatan dan kebaikan. Tergantung bagaimana kita memandang semua ini. Silakan interpretasikan masing-masing dalam segala aspek kehidupan ini.

Bisa Anda ceritakan ritual poleng, apa mungkin kain ini bisa jadi konsumsi publik tanpa harus menjalani ritual?
Yang jelas, langkah pertama, saya bersembahyang di merajan di puri menghaturkan banten pejati mohon izin pada Ida Betara Ratu Gede Nusa yang melinggih di Pura Dalem Peed, Nusa Penida. Kemudian dimulai proses produksi dan tujuh hari sebelum show saya melakukan puasa. Yang mengerjakan produksi pun pada waktu itu mereka tidak boleh mengkonsumsi daging sapi dan yang wanita tak boleh menstruasi selama 12 hari proses produksi. Kalau secara general dilihat, sebetulnya poleng bisa dikonsumsi untuk publik tanpa upacara ritual. Namun karena di Bali masih menjunjung nilai-nilai sakral, mungkin agak susah juga kita mengharapkan kain poleng dapat dikonsumsi secara umum oleh publik.

* * *

Dunia lebih mengenal Bali daripada Indonesia, lalu kenapa unsur-unsur fashion Bali tidak muncul di forum internasional?
Mungkin karena desainer di Bali itu orientasinya banyak ke ekspor. Mungkin karena itulah bule datang ke Bali. Tak ada bule yang datang hanya memesan satu atau dua baju. Sehingga, wajar saja kemudian konsepnya lari ke garmen atau ke ekspor. Hal ini juga disebabkan animo masyarakat di Bali sangat jauh dengan di Jakarta atau di Surabaya. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Jika ada lomba mereka baru bersemangat membuat berbagai bentuk. Contohnya, kalau kita membikin show tunggal, walaupun gratis, orang yang menonton hanya seberapa saja. Apalagi menjual tiket, susah sekali menghadirkan masyarakat Bali.

Apa kira-kira kendalanya?
Mungkin karena basic. Mereka mungkin menganggap fashion tidak sebagai bagian dari hidup untuk memperbaiki diri. Dalam keseharian mungkin ini tidak terlalu melekat atau tak jadi kebutuhan penting bagi mereka. Sebenarnya yang terpenting di sini adalah kultur. Harus diakui bahwa masyarakat Bali juga sibuk dengan urusan adat dan agama yang kita masih jalani serta belum lagi kerja untuk urusan kantoran yang membuat diri semakin sibuk.

Tapi kan sudah banyak wanita modern yang sudah sadar?
Walaupun itu ada, tetapi tak sebanyak yang diharapkan. Kesadaran wanita Bali yang agak modern ada sekitar 15 persen saja. Saya tidak mengerti dengan jumlah sedemikian itu. Kalau dibilang masalah ekonomi, saya rasa tidak, karena ekonominya rata-rata oke. Contoh kecil saja, banyak wanita Bali memakai baju yang bahannya berharga jutaan. Tetapi menjahitnya tidak mau mencari ahlinya dengan bahan yang sekian juta itu. Mereka beranggapan, yang penting sudah kelihatan memakai baju yang bahannya jutaan. Saya sering melihat kejadian seperti itu, baik di pesta upacara adat atau agama. Baju yang dipakai harganya sekian jutaan dan memiliki kualitas yang sangat bagus, tetapi bentuknya kok begitu — tidak pas di tubuh. Kenapa banyak yang membeli bahan mahal, tetapi tidak memperhatikan bentuknya? Saya tidak juga mengatakan kebaya saya fit. Tetapi paling tidak saya car, seperti hati-hati membuatnya.

Mungkin mereka beranggapan pergi ke desainer itu mahal dan bukan sebuah kebutuhan?
Itu anggapan salah. Apa Anda tak sayang dengan uang Anda? Sayang kan? Dalam dua tahun saya berbisnis menjadi desainer di Bali ini, saya malah sebaliknya. Saya pilih bahan yang murah, tetapi membuat bentuknya yang lain tidak seperti kebaya biasanya. Saya tetap membuat yang full dan sopan. Hanya saja, saya membuat yang lebih modern.

Menurut Anda, apa ada nilai sakral yang terkandung dalam kebaya?
Dari segi kreativitas, tidak. Tetapi, kalau saya membuat kebaya, saya harus memikirkan fungsinya. Baju untuk ke mana, kapan, di mana dan untuk apa. Kalau membuat kebaya untuk ke pura sudah tentu harus sesuai dengan pakem. Boleh saja ada sedikit kreasi untuk menciptakan kesenangan. Saya juga merasa riskan kalau melihat ada orang berbaju kebaya yang tipis sampai kelihatan torso-nya di pura. Saya pernah debat dengan teman, ia mengatakan, kenapa kebaya tidak boleh kelihatan torso-nya di dalam. Katanya, dulu saja orang hanya memakai lelunakan. Ketika ditanya begitu, saya tidak menjawab. Sebetulnya sangat jelas, lelunakan ya tetap lelunakan. Persepsi orang, itu baju lelunakan. Sama seperti halnya baju menari, orang tak akan terlihat porno karena itu adalah baju menari. Lalu kalau sekarang ke pura berbaju tipis kelihatan torso-nya, orang akan bilang itu kan baju dalamnya kelihatan. Jadi, persepsinya sudah beda. Saya sarankan, kalau untuk ke pura beli brokat yang agak rapat, jangan yang tipis.

Lalu, kebaya yang tipis itu cocok untuk ke mana?
Ya, untuk ke pesta. Pesta perkawinan adat, atau undangan-undangan upacara adat. Kalau mau pakai brokat tipis ke pura, silakan, asal torso-nya bagus dan rapi. Apalagi ditutup dengan angkin di luarnya, itu akan kelihatan lebih bagus, lebih cantik.

* * *

Apa obsesi Anda bagi perkembngan fashion di Bali?
Saya berobsesi mengangkat kain Bali. Hanya saja, kendalanya susah pemeliharaan. Kain endek misalnya, dicuci dua kali saja sudah berubah warna. Untuk ke depan mungkin yang perlu diperhatikan adalah pencelupan warna dari benangnya, menenunnya harus lebih rapat, dan jenis benangnya mungkin harus lebih tebal. Sehingga tidak cepat pudar kalau kena sinar matahari. Contohnya, beberapa waktu lalu saya mengangkat songket. Sebenarnya kan sudah banyak orang yang lupa sama songket, kesannya berat dan ribet. Saya coba siasati agar terkesan elegan dan tidak konservatif. Hasilnya, bisa Anda lihat pada para finalis Putri Indonesia wilayah Bali, mereka terlihat sama. Cantik, anggun, dan feminin.

Lalu bagaimana Anda mempertahankan konsep mode Bali? Apa pula kecemasan yang Anda rasakan?
Sebetulnya bukan berawal dari kecemasan. Saya hanya melihat wanita Bali itu kalau memakai kebaya dan kain kelihatan cantik. Lalu, kenapa saya tidak mencoba untuk mengembangkannya. Lagi pula, bagi wanita Bali, kebaya sudah semacam parfum bagi perempuan modern. Mereka harus punya kebaya, karena seringnya ada upacara adat yang mewajibkan mereka mengenakan kebaya. Di Jakarta saja kebaya sudah booming, lalu kenapa di Bali tidak. Ini tugas para desainer tentu, dengan membuat rancangan yang bisa diterima publik.

Sebetulnya banyak wanita ingin membuat baju yang pas untuk mereka. Banyak juga yang ingin datang ke desainer, tetapi mereka segan, terutama takut mahal, dan tidak terbiasa. Apa pendapat Anda?
Saya pikir ukuran mahal itu relatif. Buktinya banyak perempuan Bali memakai kebaya yang harganya jutaan. Tetapi, jika bisa ketemu langsung dengan desainer, mereka bisa minta pertimbangan dan pendapat. Desainer itu ibarat dokter, mendiagnosa struktur tubuh mereka, memberi saran mana yang pantas dan tidak untuk masalah bentuk tubuh, gaya, warna, model, dan sebagainya. Semua itu bisa dikonsultasikan. Jika sudah ada dialog, pelanggan bisa lebih mengerti. Kemudian, dibuatkan desain, terus dibuat baju, kemudian dicoba. Ya, begitulah kerjanya desainer. Mungkin karena kelebihan dapat berkonsultasi itulah, kenapa membuat baju di desainer itu lebih mahal. Lagi pula saya sadari juga, masyarakat Bali belum terbiasa.

Anda sering mengangkat desain-desain kuno dan cara perempuan bangsawan Bali berdandan ke pangung “catwalk”. Apa yang ingin Anda sampaikan ke publik Bali?
Salah satunya mengingatkan. Juga ingin membudayakan.

Di Bali kan sangat sensitif sekali. Segala sesuatu ada nilai sakralnya. Bagaimana Anda menyiasatinya?
Ya, saya tahu itu. Mungkin salah satunya karena saya dari puri. Mungkin juga dianggap sedikit mengerti tentang aturan-aturan tak tertulis, mana yang layak dikonsumsi dan mana tidak. Sakral dan profan saya ketahui sedikit dari para penglingsir. Tujuan saya positif, agar teknik berbusana Bali juga bisa jadi konsumsi publik dan layak dipakai oleh siapa saja.

Ketika memulai mengambil sesuatu yang sedikit sakral untuk konsumsi publik, ada kecemasan yang Anda rasakan?
Tentu. Kalau sudah ada aturan yang ketat, saya pun tidak akan berani melanggarnya. Misalnya saja, busana perkawinan. Kalau dulu itu dipakai di puri, tetapi perkembangannya, berkembang juga di luar. Dipakai oleh semua orang. Ternyata tidak ada masalah. Dari sinilah saya mulai bergerak, memperdalam lagi esensinya, lalu baru membuat modifikasi agar terlihat lebih fleksibel dan layak dikonsumsi siapa saja.

Apa pernah ada intervensi?
Pernah. Ketika saya menggunakan kain poleng. Anggota Yayasan Pencinta Budaya Bebali sempat protes. Padahal sebelumnya sudah diizinkan oleh ketuanya untuk menggunakan kain poleng itu. Asal sebelumnya harus dapat melihat jenis desain saya. Tetapi, setelah diterangkan akhirnya mereka mengerti.

Kira-kira apa yang Anda ketahui tentang konsep “poleng”? Poleng itu kan duwene Ida Bhatara Dalem Peed, beliau adalah penjaga dunia. Makanya di setiap rumah orang Bali itu ada tugu penunggun karang yang dihiasi saput warna poleng. Kalau tidak benar mengurusnya, kita akan mendapat sanksi dari beliau. Walaupun saya besar di Jakarta, tetapi saya sangat percaya sekali dengan hal itu. Saya juga tak habis pikir, kenapa saya justru ingin mengangkat poleng itu. Terus terang secara ide datang saja. Saya berpikir orang yang memakai kain poleng akan kelihatan cantik di panggung dan tetap ada nilai sakralnya. Sehingga penampilannya, selain menarik dan bagus, juga terkesan magis. Makanya sebelum show “Bali Fashion Week” tahun lalu yang menggunakan konsep poleng itu, saya selalu hati-hati juga tetap melakukan ritualnya seperti melakukan sembahyang.

Fashion kan kesannya harus glamour, apakah Anda sulit beradaptasi? Bagaimana dengan aksesori?
Saya sempat kebingungan dengan perhiasan atasnya. Saya sudah menyuruh orang untuk membuatnya tetapi tidak bisa. Sehingga saya menjadi putus asa. Lalu, pada saat saya pergi ke rumah teman dan melihat di pura, penunggun karang-nya dibalut kain poleng dan di atas daksina-nya ada lontar dan bunga emasnya, seketika itu saya mencoba untuk menirunya. Saya menggunakan hiasan lontar, bunga emas dan uang kepeng. Bunga emas itu serasi dan bisa menjadi hidup dengan poleng. Uang kepeng itu identik dengan sakral dan nilai magisnya. Saya pikir aksesori di Bali sebetulnya tidak ada silver-nya, semuanya emas.

Jadi, bagi Anda “poleng” itu tidak selalu seram?
Tetap ada unsur magisnya. Hanya saya ini kan kreator. Ide datang dari berbagai sudut dan arah. Sebagai orang Bali, tentu ide saya muncul dari keseharian aktivitas manusia Bali.

* * *

Menurut Anda, bagaimana caranya agar fashion di Bali maju? Padahal sudah ada banyak kegiatan mode, fashion di Bali tidak semegah Hongkong atau Paris. Apa kira-kira penyebabnya?
Saya kira itu kulturnya. Berapa sih ada kegiatan fashion yang besar? Kegiatan fashion yang besar itu kan hanya “Bali Fashion Week” saja. Sedangkan show reguler itu buat orang asing, bukan untuk orang lokal. Untuk lokal hanya ada pada lomba saja. Tetapi lomba itu bukan untuk menunjukkan kepada masyarakat luas. Misalnya, ini lho baju yang pantas untuk dipakai. Namun kebanyakan, kalau lomba itu kan memakai baju yang bagus untuk dirinya masing-masing. Bukan kegiatan show reguler yang di balai banjar atau balai masyarakat. Kalau majalah, apakah animo masyarakat Bali mau membaca yang sudah begitu sibuknya. Saya pikir, show-show harus dilakukan lebih sering lagi, untuk konsumsi masyarakat. “Bali Fashion Week” tahun lalu sudah berusaha mengajak masyarakat ikut menyaksikan langsung desain para perancang. Hasilnya? Panitia sudah kerja keras, minat belum ada. Jadi saya pikir masih perlu proses.

Kalau kegiatan mode selama ini untuk apa?
Kalau kegiatan show reguler di kafe atau di hotel itu ditujukan untuk tamu asing atau tamu hotel. Sebetulnya, sebelum saya melakukan show tunggal saya ingin melakukan di Ubud, di wantilan balai banjar. Rencananya, saya akan menampilkan kebaya katun, brokat dan juga diselipkan sedikit poleng. Hanya saja belum terealisasi, karena belum ada dananya.

Jadi, masih ada harapan Bali jadi pusat mode?
Kita harus optimis. “Bali Fashion Week”, gaungnya sudah internasional. Ika Mardiana sudah membuat sesuatu yang disorot di Bali. Makanya dengan adanya Asosiasi Mobbas, APPMI, inilah yang diharapkan untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat Bali. Atau itu bisa dilakukan lewat Pesta Kesenian Bali (PKB) nanti. Saya sering bermimpi, alangkah indahnya kalau para desainer diberikan ruang untuk ikut PKB. Tentu akan lebih dikenal publik, bukankah berbusana bagian dari kebudayaan juga?

Apalagi yang Anda inginkan?
Saya ingin membuka anima di masyarakat tentang fashion. Agar kesannya tidak identik dengan glamour saja. Atau untuk kalangan tertentu. Fashion itu milik siapa pun. Bukankah setiap hari kita juga berbusana? Saya tahu, ini masih perlu waktu. Kenyataannya, sudah digratiskan, jarang juga ada yang datang. Padahal nonton fashion show juga bagian dari hiburan. Saya berharap dari Bali TV yang membuat program wanita yang mengulas wanita Bali yang tidak cuma mejejahitan saja, tetapi juga meboreh, loloh, berpakaian dan berhias. Karena, media TV lebih cepat dari media baca. Isinya nanti ada wawancara menjaga penampilan, fashion show, dan sebagainya.

Selama menjalani karier sebagai desainer, ada pengalaman yang mmbuat Anda merasa tersanjung?
Saya senang ada yang memakai desain saya. Beberapa waktu lalu ada orang yang terang-terangan mengatakan bahwa ia melihat desain saya di koran bagus. Kemudian desain saya itu dicontoh. Mengalami kejadian seperti itu, saya tidak merasa payuk nasi saya diambil orang. Tetapi ada arti lain, yakni dengan begitu desain saya bisa mereka contoh. Walaupun busana itu bukan dibuat di tempat saya, saya tidak apa-apa, malah saya merasa senang kerena masyarakat Bali sudah memiliki keinginan untuk tampil agak berbeda. Dengan begitu sudah ada kesadaran untuk berbusana seperti yang saya contohkan. Itu artinya saya sudah berhasil menjadi desainer. Sederhana.

Jenis Kain Khas Pulau Bali NE !

Sejarah singkat kain tradisional Bali

Masyarakat Bali di bagi menjadi 2 golongan yaitu Bali Hindu dan Bali Aga. Masyarakat Bali Hindu adalah keturunan warga majapahit yang hijrah ke Pulau Bali pada abad ke-13. Sebelumnya hubungan Bali dan Majapahit Jawa Timur sudah terjalin. Sejak sekitar abad ke-10 raja Dharma Udayana dari Bali mengambil permaisuri dari Jawa Timur, yang bernama Mahendradatta ( bergelar Srigunnapryadharmapatni ) yang merupakan keturunan dari Mpu Sendok. Perkawinannya melahirkan Erlangga yang kemudian dinobatkan menjadi raja di Jawa Timur, menggantikan Dharmawangsa yang memerintah Th 991-1007. Ketika kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan runtuh, mereka yang setia membawa sisa-sisa kerajaan Majapahit dan Agama Hindu menyingkir ke arah timur hingga ke Bali.

Sistem perkawinan di Bali sangat dipengaruhi oleh sistem kasta. Bahkan ada aturan adat yang melarang perkawinan dengan kasta yang berbeda. Sistem  pelapisan sosial ini juga berpengaruh pada adat istiadat, sikap pergaulan dan tutur bahasa. Meskipun demikian, namun tidak berpengaruh besar pada sistem berpakaian atau perhiasan.

 

Kain tradisional endek Bali

Kain Endek

 

penyempurnaan ragam hias ikat pada kain di bagian-bagian tertentu yang di tambah coletan yang di sebut nyantri. Nyanti adalah penambahan warna dengan goresan kuas dari bambu seperti orang yang melukis. Keindaham ragam pola nyantri ini terletak pada penyempurnaan warna hiasan berbentuk flora dan fauna serta motif-motif dari mitologi Bali dan wayang. Motif-motif inilah yang mencirikan kain endek.

Kain endek yang bercirikan tenu ikat ini juga banyak di beri kombinasi songket benang emas atau perak di pinggiran kain.

Kain endek mempunyai 2 mecam bentuk, yaitu bentuk sarung dan kain panjang. Bentuk saraung di gunakan untuk kaum laki-laki, yang mempunyai sambungan di bagian tengah atau sampingnya. Dam kain panjang di gunakan untuk kaum perempuan yang mempunyai motif atau ragam hias ikat yang menghias pada bagian pinggirnya, sedangkan bagian tengahnya polos.

Kain endek sering di gunakan sebagai pakaian adat, dan diminati oleh berbagai lapisan masyarakat hingga luar Bali. Dengan kain endek ini dipergunakan juga untuk kemeja laki-laki, gaun pengantin, atau sebagai dekorasi di dalam rumah.

Merawat ”Endek”

Beberapa tips agar kain endek tidak mudah luntur dan rusak. Endek agar warnanya tetap bagus dan cerah, kain endek perlu dirawat apik. Namun merawat kain endek tidaklah berbelit-belit, tidak serumit merawat songket.

Bila kain kotor, cukup dicelup-celup di dalam seember sabun cuci dan tak perlu waktu lama. Selanjutnya, kain diangin-angin, jangan terkena sinar matahari langsung sebab sinar matahari dapat memudarkan ketajaman warna dan corak.

Bila ingin agar kain terasa halus, kain itu dapat disetrika ketika masih setengah kering. Syaratnya, jangan disetrika dengan suhu panas. Apabila kain dalam keadaan terlalu kering ketika disetrika, hasilnya justru tidak baik.

Kain menjadi susah dihaluskan dengan setrika. Jika disemprot air, hasilnya malahan tidak maksimal. Apalagi kain yang sudah ada lukisannya. Lebih baik disetrika di sisi kain lainnya, bukan langsung terkena lukisannya. Saran lain, jangan terkecoh dalam membeli. Pasalnya, tenun endek makin banyak ditiru. Namun, endek asli tetap memiliki ciri khas, yaitu bagian pinggiran kain yang panjang lebih tebal sekitar satu sentimeter dan warnanya lebih gelap. Tentu saja buatannya pun lebih rapi.

J
uga jangan sampai terkecoh kain berbahan sutra sekalipun. Kadang yang motif-motif bunga, misalnya, sudah bukan dibuat dengan cara dibordir lagi, melainkan disablon biasa. Makanya, harganya miring. Jadi, hati-hati memilih dan membeli bila menginginkan kualitas. Untuk merawat kain endek tidaklah sulit. Jangan dicuci dengan mesin cuci, sabun cuci biasa atau di-dryclean. Pada waktu tertentu, pada musim kemarau misalnya, endek cukup diangin-anginkan, tidak di bawah terik matahari langsung. Dimasukkan ke dalam plastik, atau digulung, disimpan dengan posisi tegak di lemari.


Kain tradisional songket Bali

 koleksi_kain_songket_0032

Menurut tradisi Indonesia sendiri, kain songket nan keemasan dikaitkan dengan kegemilangan Sriwijaya, kemaharajaan niaga maritim nan makmur lagi kaya yang bersemi pada abad ke-7 hingga ke-13 di Sumatera.

Kain songket benang emas dan perak di buat dengan penuh ketelitian dengan tenunan yang di jalin dengan benag emas atau perak dengan sarana lidi-lidi halus yang di silangkan pada benang pakan dan lungsi pada saat menenun di alat tenun. Kain-kain songket dengan mutu yang tinggi menjadi prestise bagi pemiliknya.

Di Indonesia, pusat kerajinan tangan tenun songket dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok dan Sumbawa. Di pulau Sumatera pusat kerajinan songket yang termahsyur dan unggul adalah di daerah Pandai Sikek dan Silungkang, Minangkabau, Sumatera Barat,[12] serta di Palembang, Sumatera Selatan. Di Bali, desa pengrajin tenun songket dapat ditemukan di kabupaten Klungkung, khususnya di desa Sidemen dan Gelgel. Sementara di Lombok, desa Sukarara di kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah, juga terkenal akan kerajinan songketnya.[13] Di luar Indonesia, kawasan pengrajin songket didapati di Malaysia; antara lain di pesisir timur Semenanjung Malaya[14] khususnya industri rumahan di pinggiran Kota Bahru, Kelantan dan Terengganu; serta di Brunei.

 

Kain tradisional prada Bali

images.jpeg 25

index.jpe 30

index.jpeg 31

Kain Prada Bali, umumnya dipergunakan untuk menari/penari dan hiasan. Kain prada bali ini merupakan salah satu jenis kerajinan dengan Kain jenis Satin yang disablon dengan cat prada (warna keemasan).

 

Kebaya Tradisional NE !

images.jpeg 20

images.jpeg 21

images.jpeg 22

PENGERTIAN KEBAYA

Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.

Asal kata kebaya berasal dari kata arab abaya yang berarti pakaian. Dipercaya kebaya berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu. Lalu menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun, pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat.

Sebelum 1600, di Pulau Jawa, kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan di sana. Selama masa kendali Belanda di pulau itu, wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Selama masa ini, kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni.

Pakaian yang mirip yang disebut “nyonya kebaya” diciptakan pertama kali oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. Mereka mengenakannya dengan sarung dan sepatu cantik bermanik-manik yang disebut “kasut manek”. Kini, nyonya kebaya sedang mengalami pembaharuan, dan juga terkenal di antara wanita non-Asia.

Terpisah dari kebaya tradisional, perancang mode sedang mencari cara memodifikasi desain dan membuat kebaya menjadi pakaian yang lebih modern. Kebaya yang dimodifikasi itu malah bisa dikenakan dengan jins atau rok.

 

MACAM-MACAM KEBAYA

Kebaya merupakan pakaian tradisional yang digunakan oleh masyarakat Indonesia khususnya para perempuan. Pada jaman dahulu kebaya sangat trend digunakan, terutama oleh wanita bangsawan. Hingga saat ini kepopuleran kebaya tak kunjung redup, bahkan semakin berkembang. Tapi tahukah Anda tentang macam-macam kebaya sesuai jenisnya? Seperti dikutip dari penjahitkebaya.com, berikut adalah macamnya.

Kebaya Chiffon
Chiffon, sebuah bahan yang sangat lembut, halus, transparan, mengikuti bentuk badan. Kain ini sangat tidak disarankan untuk digunakan oleh orang yang berbadan gemuk.
Kebaya Tule
Kain ini dipakai untuk pengantin ataupun penari ballet, kain kebaya ini sering digunakan sebagai sebuah kombinasi untuk sebuah busana yang lebih modern, contohnya saja untuk sebuah aksen di bagian leher, pergelangan tangan, dan ujung-ujung baju. aksen ini memang dilakukan dengan cara mengerutkan sebuah kain agar menumpuk di satu bagian saja.
Kebaya Lace atau Brokat
Kain brokat yang sangat glamor ini digunakan sebagai bahan kebaya. Brokat ini diproduksi dari Prancis, tapi di India dan Indonesia mampu memproduksi dengan kualitas yang bagus.Aplikasi tambahan yang dapat menyemarakan kebaya, seperti adanya payet, beads, Anda tidak perlu membeli kain brokat yang mahal lagi. Pola brokat sendiri berkisar pada motif floral dan orang dikit menggunakan motif abstrak.
Kebaya Silk dan Sutera
Sutra ternyata dibagi dua jenis; pertama dari serat alam, dan dari kepompong ulat sutera, satunya lagi adalah sebuah sutera buatan. Sifat kain ini sangat lembut dan sangat tahan lama, sutera menjadi pilihan untuk beraneka macam busana. Kain sutera banyak diaplikasikan sebagai corak batik tradisional.
Kebaya Tenun / Sarung
Tahukan Kamu ternyata Indonesia sangatlah kaya dengan beraneka ragam macam kain tenun mulai dari berbagai daerah, seperti kain tapis lampung, songket dari Palembang, Ulos dari Batak, dan sebagainya. Kain tenun ini memiliki sebuah keunikan tersendiri. Seperti memadukan kebaya dengan beraneka jenis kain tenun akan membuat penampilan kita semakin anggun, etnik dan juga menarik.
Kebaya Organza atau Organdi
Sebuah tekstur soft, shiny. Bentuknya yang cocok bisa menimbulkan sebuah efek volume atau puffy. Tekstur warnanya sendiri memang memberikan kesan mahal dan juga cocok untuk pesta ataupun gaun.